Ads 468x60px

Sunday, June 23, 2013

Hadrah Basaudan

Selasa, 11 Juni 2013
               

Kampung halaman suatu tempat yang tak akan bisa tergantikan dengan lokasi manapun di dunia ini. Suasana Alam yang telah melekat sejak lahir taka kan bisa dengan mudah hilang dari benak. Teman- teman main saat kecil yang menjadi seperti keluarga menjadikan rasa kangen jadi tak terbendung. Belum lagi ditambah hangatnya Dekapan kasih sayang Orang tua dan keluarga yang membuat begitu istimewanya Kampung halaman.
                Bangil sebuah Kota Kecamatan di Jawa Timur yang menjadi Kampung halamanku. Kota yang kental akan nuansa Religi banyak Pondok dan Ulama yang terdapat dikota kecil ini. Kegiatan – kegiatan majlis Dzikir, Maulid dan taklim tak akan pernah sepi dari kota ini. Aku yang tumbuh besar di Bangil sudah tidak asing lagi dengan ritual – ritual keagamaan yang ada. Salah satu yang dulu sering aku ikuti adalah Pembacaan Hadrah Basaudan yang bertempat di Masjid Segaf Kersikan tiap Selasa sore.
                Lama sudah aku tidak melakukan pembacaan Hadrah Basaudan yang dulu hampir tidak pernah aku absen untuk mendatangi Majlisnya. Jarak yang tidak berkompromi dan mungkin kuterlalu disibukkan kegiatan dunia sehingga aku tidak melakukannya lagi. L moment pulang kampung kali ini tidak mau aku lewatkan begitu saja. Mumpung aku masih sempat mendapatkan hari selasa di Bangil aku mencoba mengikuti dan mendatangi majlis ini. Sore hari aku Berangkat menuju ke Masjid Segaf.

“Sesuatau hal yang dilakukan berulang – ulang akan menjadikan ahli dalam hal tersebut”

                Mendekati masjid Segaf terdengar suara lantunan Dzikir- Dzikir yang terdapat dalam Kumpulan Hadrah Basaudan. Segera aku melaju dan masuk kedalam Masjid Segaff, suasana kurasakan berbeda dengan saat aku dulu masih SMA. Dulu santri – santri yang masih kecil dan sekarang sudah menjadi besar – besar semua, selain itu ustadz2 yang datang juga tidak sebanyak waktu dulu. Banyak wajah- wajah baru, Nada pembacaan pun juga ada yang berbeda dari dahulu dan terasa sangat cepat. Beberapa menit setelah aku datang, disusul jamaah lain yang datang yang tidak asing wajahnya karena dari dulu juga sering ikut dan sampai sekarang masih istiqomah. Tak lama kemudian dia pergi kedepan dan memimpin hadarah Basaudan.
                Setelah hanyut dalam bacaan dan telah mendekati akhir. Maka dahulu para jamaah akan diberi secangkir kopi dan biskuit. Mungkin dari sini juga aku jadi suka banget dengan yang namanya kopi. Namun kali ini beda dengan dahulu dan sekarang hanya dikasih air mineral biasa dan tetap dengan biskuit yang menjadi maskot acara – acara semacam ini.
               


Artikel Terkait Curcol

0 comments:

Post a Comment