Ads 468x60px

Monday, September 8, 2014

Kereta Bangun Karta


Senen, 01 September 2014

Hampir tiga tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman -Bangil- dan melanjutkan studi di Kota Deltamas-Bekasi- Jabar. Jarak yang membentang dari Timur ke Barat dan terpisah provinsi membuat jarak tempuh memerlukan waktu yang cukup lama dengan kendaraan darat. Transportasi darat favoritku adalah kereta api karena nyaman dan relatif lebih cepat dibanding dengan bus, selain itu harganya juga murah.

Interior Bangun Karta
Aku merasakan pelayanan kereta api yang meningkat drastis dalam 3 tahun tersebut. Mulai dari tiket kereta yang dibeli pas hari H hingga kini yang harus dipesan jauh hari (hingga -90hari) dan  kini kereta ber-AC semua. Walaupun aku jarang ada liburan panjang seperti mahasiswa pada umumnya karena sudah terikat, namun selalu kusempatkan untuk menengok kampung halamanku jika ada kesempatan. Selama kuliah dan bolak-balik Jakarta-Bangil terhitung hanya 2 kali aku merasakan kereta kelas eksekutif selebihnya kereta ekonomi dan bisnis. Kereta kelas eksekutif kali pertama kunaiki adalah kereta Gumarang saat berangkat menuju kampus ITSB –Deltamas dan Kereta Bangun Karta untuk kali kedua pada hari ini.

Aku naik kereta Bangun Karta dari Stasiun Surabaya Gubeng berangkat pukul 14.15 WIB. Oia Aku pulang kampung kali ini karena ada acara pernikahan Kakak. Aku tidak bisa berlama-lama di rumah dan harus segera kembali untuk melaksanakan Sidang TA tugas akhir. Sehari setelah acara aku diantar Kakak  (Mas Lun) ke Stasiun Gubeng. Aku masuk ke tempat pemeriksaan karcis dan ternyata pemberangkatan kereta ini dari jalur 5 yaitu dari Stasiun Gubeng Baru. Aku disuruh menunggu oleh petugas pemeriksa karcis lalu aku diantar oleh security dan ditunjukkan arah ke stasiun Gubeng Baru.
Tepat pukul 14.15 kereta berangkat namun kulihat sepi tidak seperti naik kereta ekonomi. Terhitung di gerbong yang aku tumpangi hanya ada sekitar 8 penumpang. Memang perbedaan fasilitas kelas ekonomi dan eksekutif cukup mencolok karena harganya pun juga sangat jauh bisa 8-10x lipat. Tak lama kemudian kereta telah sampai di stasun Mojokerto dan berhenti, sepertinya ada juga penumpang yang naik dari stasiun ini. Kereta berjalan kembali dan hampir setiap stasiun besar juga berhenti. Dalam hati pun aku mulai bergumam, ternyata gumamanku dalam hati saam dengan lontaran ucapan penumpang di site belakangku yang mengatakan kalau kereta banyak berhenti kalah dengan kereta ekonomi GBM (Gaya Baru Malam).



Perkiraanku salah ternyata kereta ini tidak lewat Jogja melainkan lewat Semarang (di sini gerbong mulai penuh). Seringnya kereta berhenti menurutku membuat kurang nyaman dengan status kereta eksekutif yang tersemat padanya. Memang sih, jika cari kenyamanan dan tidak terganggu dengan riuh penumpang lain enak Eksekutif. Namun aku pribadi saat ini masih lebih suka naik kereta ekonomi bisa banyak kenal dengan orang baru dan bisa lebih akrab dalam perjalanan saling mengobrol satu sama lain (selain faktor harga). Yang membedakan dengan kereta ekonomi hanya fasilitas di dalamnya seperti tempat duduk, Layar monitor, Selimut, Petugas Restorasi yang seperti Pramugari. Untuk waktu tempuh tidak jauh berbeda dengan kereta ekonomi. Dan ternyata saat kutumpangi kereta ini juga Telat dari jadwal tiba yang tertera di karcis saat tiba di Jakarta. 

Saturday, September 6, 2014

Teruntuk Penerang Kalbu
Oleh: Inueds Al Faqih
Rasa itu ...
Mengusik sukma menusuk raga
Mencuat liar tanpa kendali
Berontak ‘tuk bertemu sang pujaan hati

Lentera penerang kesuraman kalbu
Membuka jalan menuju nirwana
Tak sabar hasrat ingin jumpa
Menuangkan segala gejolak rasa

Sadarku akan keadaan hina ini
Membuatmu enggan bertemu
Bahkan menoleh pun tak mau

Pantang bagiku berpasrah papa
Dengan cinta yang kupunya
Padamu makhluk sempurna
‘Kan kukorbankan semua

Meski bukan keadaan terjaga
Sosokmu tetap kunanti
Menjelma masuk dalam mimpi
Yang tak satu setan pun dapat menyamai


Deltamas, 22 Februari 2014
Biodata Penulis
Inueds Al Faqih nama pena dari Achmad Burhanuddin. Bisa dijumpai di dunia maya lewat akun Fb Achmad Burhanuddin Faqih atau twitter @inueds. Dapat dihubungi di No 085730008550.


Hari Bahagia untuk Kakak


Minggu, 31 Agustus 2014



Tahun ini menjadi tahun yang bersejarah bagi keluargaku, khususnya bagi kakakku. Hari bertambahnya keluarga baru di keluarga besarku. Namanya Mbak Lintang Putri, Istri dari Kakakku yang pertama (Mas Lun). Akad nikah telah dilaksanakan di Masjid kawasan Putri Duyung Resort dengan hikmat pada tanggal 17 Agustus 2014. Aku yang juga hadir saat itu merasa gemetar ntah kenapa mungkin karena sangat senang, haru, gembira hingga tak kuasa air mataku juga deras mengalir saat akad. Ditambah lagi mahar yang dipersembahkan adalah hizdhil suraturrahman. Sungguh mengharukan, mahar yang tidak biasa kutemui saat hadir dalam acara walimatul urusy selama ini.

Foto Ayah, Ibu, Mempelai berdua, Ibu Mertua Kakak, Adik Mbak Lintang (dari kanan ke kiri)

Keluarga besarku berangkat rombongan dari Bangil ke Jakarta dengan mengunakan Elf Long. Kebetulan aku yang berada di Deltamas-Bekasi dijemput di pintu tol Jakarta – Cikampek Km 37. Rombongan berangkat Jumat pagi dan sampai di lokasiku hari sabtu pukul 02.00 dini hari. Setelah menjemputku, perjalanan lanjut menuju rumah Neng Khus (Keponakan Ayah) yang berada di Pasar Minggu. Siang hari perjalanan berlanjut ke Ancol tepatnya menuju Cakalang Cottage. Terhitung 3 hari kuhabiskan waktu bersama keluarga besar di Ancol dari hari Sabtu, 16 Agustus 2014 – Senin, 18 Agustus 2014 mengikuti serangkaian acara yang digelar oleh keluarga besar Mbak Lintang. Kami rombongan cek out dari Ancol hari Senen siang dan mampir dulu ke rumah yang nantinya akan ditempati Mas Lun, mampir ke Istiqlal dan ke Monas setelah itu aku diantar kembali ke kosanku di Deltamas dan rombongan kembali ke Bangil.

Foto Rombongan saat di rumah Neng Khus

***
Melek.an Sabtu Malam 
Selang dua minggu sejak acara akad nikah di Ancol, hari ini (Minggu 31 Agustus 2014) keluargaku mempunyai gawe katanya orang- orang sih Ngunduh Mantu.  Rencana yang telah dipersiapkan dengan matang agar tidak berbenturan dengan jadwal kampus ternyata sedikit bleset. Jadwal Ngundu Mantu hampir berbenturan dengan Sidang TA, Namun Alhamdulillah aku masih bisa hadir dalam acara tersebut walaupun harus balik cepat ke Jakarta untuk melaksanakan sidang TA di hari Selasa, Tanggal 2 September 2014.

Aku bertolak dari jakarta dengan menggunakan kereta ekonomi Kertajaya dengan relasi Jakarta Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi PP. Berangkat dari Pasar Senen hari kamis pukul 14.10 dan sampai di rumah jumat pukul 04.30. Balik ke Jakarta lagi dengan kereta Eksekutif Bangun Karta pada hari Senen pukul 14.15.

Kejadian ini mengingatkanku pada kejadian 2 tahun silam saat pernikahan kakakku yang satunya (Mas Is), Saat itu jadwal juga berberturan dengan jadwal ujian di kampus. Dan kejadian itu terulang kembali di pernikahan Mas Lun. Namun Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga di Bangil. J



Tuesday, March 11, 2014

Kucing ndas ireng


Minggu, 09 Februari 2014


Sore hari sepulang dari Masjid untuk menjalankan sholat Asar, aku melewati jalan raya Tegal Danas-Deltamas. Sabana yang terdapat di pinggir jalan menggoda selera makanku. Pasalnya siang harinya aku hanya makan nasi yang hanya ditemani lauk krupuk. Untuk makan malam aku berniat balas dendam dengan membeli sepotong Fried Chicken.
Dalam perjalanan pulang menuju kos, sesekali kumakan sedikit untuk menawar rasa penasaran lidah. Namun tetap tujuanku membeli Sabana untuk bekal lauk makan malam. Sampai di kosan aku teringat bahwa air minum sudah hampir habis. Aku pergi ke warung untuk membeli air isi ulang satu galon. Di sana aku bertemu dengan Mas Rapik yang mengajak untuk main voli.
Akhirnya aku bilang ke teman-teman di kosan dan mereka setuju untuk main voli. Aku pergi ke SD Hegar Mukti. Semua teman ikut ke sana. Oia sebelumnya di kosan sempat ada Mbak Ugi. Mbak tetangga sebelah dulu saat di Greanleaf Terrace. Mbak yang baik hati dan sangat dekat dengan teman-teman. Teringat saat dulu masi tidak ada kendaraan maka motor Mbak Ugi yang selalu jadi pinjaman.
Kembali ke topik main voli sekitar pukul 04.00 sore Mbak Ugi pamit meninggalkan kosan dan lanjut mau ke tempat temannya juga yang ada di Jababeka. Semua teman berkumpul di kamar Kimi termasuk Imam beda kosan juga datang.
Awalnya untuk acara main voli sore ini ditiadakan namun saat teman-teman asli sekitar kosan ngajak main (Mas Rapik), kita ya ayok aja. Teman-teman yang tadi sudah berkumpul berbondong-bondong berangkat menuju lapangan voli. Dan seperti biasa Imam tidak ikut main volli.
Main voli lumayan seru juga, padahal jujur dari dulu aku kurang suka main olahraga yang ber-team. Ntah mungkin aku bakalan dibilang individualis atau gimana ya terserah. Awalnya dulu saat kecil, biasa kehidupan desa asih sering main bola rame-rame. Dan ntah kenapa juga jika saat main dan melakukan kesalahan aku merasa nggak enak aja apalagi jika melihat kekecewaan teman-teman se-team karena kesalahanku. Hingga akhirnya aku mulai menghindari olahraga yang berbau team dan lebih suka ke olahraga individu ex. tenis meja dan badminton. Namun seiring berjalannya waktu aku sekarang mulai bisa menikmati olahraga-olahraga yang rame-rame.
Setelah lumayan puas main voli, aku kembali ke kosan karena waktu yang mengharuskan permainan tersebut usai. Sampai di kosan aku mandi dan menghangatkan nasi yang ada di magic com. Setelah mandi kok ada yang janggal ya, aku mencari sabana yang tadinya sebelum voli kuletakkan di samping magic com. Nah loh, Hilang. Kucoba mencari di seluruh ruang, mungkin aku lupa naruhnya. Namun hasilnya Nihil. Aku masih belum puas dan agak dongkol juga. Sudah niat mau aku makan eh ternyata saat akan di makan eh malah nggak ada.

Aku berpikir keras, ke mana kiranya hilangnya sepotong Fried Chicken tersebut. Kalau ada kucing yang masuk rumah pasti ada bekasnya, paling tidakk sisa bungkusnya. Tapi ini bersih. Akhirnya ya udah biarlah mungkin emang rejekinya kucing kalo emang dimakan kucing. Tapi, masak nggak ada bekasnya. Hingga muncullah dalam benakku yang memakannya adalah kucing ndas ireng.

Monday, March 10, 2014

Pom Bensin Self Service


Jumat, 7 Februari 2014
            Hari ini kembali lagi kuinjakkan kaki di Ibukota Negara Indonesia tercinta. Aku bersama salah satu teman sekelas di ITSB yang juga menjadi ketua kelas mengunjungi Plaza BII lantai 11. Sekarang namanya bukan lagi Plaza BII melainkan Plaza Sinarmas Land. Di sana merupakan kantor pusat PT. Smart.Tbk perusahaan pemberi beasiswa ikatan dinas yang kuterima.
            Pagi hari sekitar pukul 08.00 aku berangkat menyusuri Kali Malang dengan Beat. Jalanan cukup padat. Sekitar 2 jam lebih akhirnya aku sampai juga di lokasi. Tujuanku kali ini adalah menemani ketua kelas yang disuruh oleh pihak perusahaan (Pak Erwin) untuk datang ke sana karena beliau seminggu kedepan tidak bisa datang ke kampus karena ada tugas luar kota.
            Sebelum nyampek di lokasi kami sempat kesulitan untuk menjangkaunya. Kronologinya saat sampai di Bundaran HI, kami yang dari arah Kuninagan karena kepadatan lalu lintas tidak bisa langsung putar arah. Hingga akhirnya kami harus mencari arah putar balik yang sangat jauh hingga melewati Senayan.
            Sampai di Sinarmas Land tower 2 kami langsung naik ke lantai 11 dan bertemu dengan Pak Erwin. Kami dijelaskan panjang lebar mengenai teknis pemberangkatan Magang. Setelah semua di jelaskan dan aku kebagian lokasi magang di Bangka tepatnya di Bukit Perak Mill. Teman-teman lainnya ada yang kebagian di Lampung, Jambi, Riau dan Kalteng.
Setelah semua telah selesai, kami membawa tiket pesawat dan informasi yang nantinya akan kami lanjutkan ke teman-teman di Deltamas. Setelah semua beres Pak Erwin menanyakan kami akan sholat jumat di mana. Mengingat waktu telah beranjak siang dan mendekati waktu sholat Dhuhur kami mengiyakan ajakan beliau untuk sholat di gedung sebelah.
            Setelah sholat jumat selesai kami pamit dan bertolak langsung ke Deltamas. Dalam perjalanan Beat sudah mulai berontak meminta segera diisi amunisi. Kami mampir di Pom Bensin yang berlokasi di sekitaran daerah Kuningan- Jakarta Pusat. Saat mendekati tempat pengisian Premium terlihat spanduk Self Servise. Pemandangan yang baru kulihat di Pom bensin yang mengadakan jasa pegisian bensin sendiri oleh konsumen.
            Di depan sebelum menuju stasiun pengisian terdapat dua petugas pom pensin berbaju merah. Mereka bertugas melayani konsumen mengenai jumlah berapa bensin yang akan dibeli dan melayani pembayaran. Jadi bayarnya di muka. Setelah melakukan pembayaran dan jumlah bensin yang kita beli, petugas tersebut memberikan kwitansi pembayaran dan menunjukkan stasiun pengisian no berapa yang harus kita tuju. Ada 3 deret stasiun pengisian dan masing-masing ada nomornya.
            Setelah melakukan pengisian sendiri temanku berkomentar ternyata sulit juga, jadi hikmahnya kita nggak boleh marah- marah jika mungkin saat pengisian BBM ada yang tumpah. Setelah selesai pengisian kami lanjut perjalanan, namun supaya adil setelah Beat kami isi amunisi kini giliran kami yang memasukkan amunisi agar cacing dalam perut tidak ikut berontak. Dua porsi soto ayam kami pesan dengan harga @10 ribu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke Deltamas.

“Mungkin kita bisa dengan seenaknya mencela suatu kerjaan orang lain yang mungkin kita anggap sepele. Padahal kita belum pernah melakukannya. Tapi, saat kita melakukan belum tentu hal itu semudah apa yang kita bayangkan. Alangkah lebih bijak jika kita tidak serta-merta menyalahkan orang lain ketika hal itu merupakan ketidaksengajaan. Dan mereka telah berusaha sebaik-baiknya”

Wednesday, February 26, 2014

Satu Lagi, Semoga Sukses Kawan


Rabu, 27 Februari 2014



Kebersamaan berjuang kuliah di Prodi Teknologi Pengolahan kelapa sawit banyak mengalami suka dan duka. Jaminan kerja yag dijanjikan di depan mata setelah lulus kuliah mampu menjadi pelecut semangat untuk kuliah lebih giat. Dengan persyaratan yang cukup ketat dalam hal nilai yang harus dipertahanan. Ya, begitulah kehidupan mahasiswa kedinasan yang tak lepas dari bayang- bayang DO jika tidak memenuhi nilai minimal yang disyaratkan.
Perjalanan di tahun awal sudah diawali 2 orang memutuskan untuk berhenti kuliah. Walaupun ada bayang-bayang denda yang harus di bayar jika harus mengundurkan diri dan tidak melanjutkan kuliah. Denda memang dibuat sebagai bentuk komitmen keseriusan mahasiswa yang memperoleh beasiswa ikatan dinas. Memang jika kita liat dalam dunia kuliahan banyak terjadi seleksi alam tidak semua mahasiswa bisa lanjut kuliah dan menyelsaiakn perkulaiahan hingga lulus. Ternyata hal tersebut juga ada dalam prodiku yang notabene adalah beasiswa dan ikatan dinas. Banyak faktor penyebab kuliah tersebut berhenti di tengah jalan.
Kebersamaan yang hampir mencapai 3 tahun ini kembali terpisahkan oleh satu orang kawan yang harus memilih berhenti kuliah. entah apa alasan pastinya, hanya dia yang tahu dan telah dipertimbangkan dengan matang segala konsekwensinya. Aku sebagai kkawan hanya bisa mendorong dan mendoaakan semoga pilihannya adalah terbaik. Aku tidak bisa menahannya, sempat  kucoba berbicara padanya namun ini sudah jalan hidupnya. Memang sukses bukanlah hanya di sini saja. Banyak jalan menuju kesuksesan lain dan dengan cara lain.
Sore itu kawanku itu berpamit untuk meninggalkan Kota Deltamas dan kembali ke kampung halamannya. Dengan menggunakan motor yang ada di kosan kuantarkan dia sampai di tegal gede. Lalu ia lanjutkan perjalananya menuju ke Teminal dan ke Kampug halamannya.
Selamat jalan kawand semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. Banyak hal yang bisa kudapat darimu, dari semangtmu yang menggebu hingga kata bijak darimu yang sangat aku suka dan kujadikan sebagai pegangan hidup.
 “Jalani, Syukuri”
Hanya dua kata namun menyiratkan makna yang sanagt dalam. Bagiku itulah intii dari kehidupan yang ada di dunia ini. Jika bisa kutambahi maka selanjutnya adalah kata “Ikhlas”. Kata-kata yang mudah di ucapakan namun sulit dilakukan, Kata yang menunjukakn kerelaan seorang hamba pada Rab nya.
“Banyak jalan menuju kesuksesan tidak hanya di sini saja. Aku yakin dngan semangtmu yag membara kelak kau akan menjadi orang yang suskes. sampai bertemu lagi.”
Hiduppp Mahasiswa ...!!!
Jalani, Ikhlas, Syukuri,,,,!!!!
(^_^)


Ketoprak Wonk Tegal


Minggu, 23 Februari 2014

Pagi hari tempatku domisili telah diguyur hujan yang cukup lebat. Beberapa hari ini hujan kembali mewarnai pagiku dan matahari tidak kelihatan sinarnya. Tak pelak keadaan ini menimbulkan duka kembali bagi masyarakat ibukota dengan kedatangan banjir. Mungkin juga berimbas terhadap masyarakat lain.
Hari ini minggu pertama yang kutemui di Cikarang setelah merasakan suasana kampung halaman. Aku teringat akan kebiasaan dulu yang hadir di Masjid At-Tauhid atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Kota Deltamas. Dulu saat aku masih ngontrak di Catalonia B10, tiap minggu pagi hampir tidak pernah absen untuk hadir mendengarkan pengajian bertema keluarga. Setelah pindah kontrakan kebiasaan tersebut menjadi tidak istiqomah lagi.
Pernah sekali waktu aku datang ke pengajian ahad pagi tersebut. Sudah banyak hal berbeda. Salah satunya adalah waktu dimulainya pengajian yang semakin siang. Jika dahulu pukul 07.00 WIB sudah dimulai dan selesai pukul 08.00 WIB namun saat ini baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Dan semakin hari ternyata jamaah yang hadir tidak semakin bertambah.
Hari ini keinginanku untuk hadir kembali di majlis tersebut kembali menggebu. Namun sayangnya hujan telah menyapa pagiku hingga aku tak kuasa basah kuyup dengan sepeda untuk pergi ke Deltamas. Suasana dingin pagi ini membuatku tertidur kembali. Aku terbangun saat hujan mulai reda. Kulihat ada cahaya matahari yang menyinari. Aku bimbang antara ingin pergi dan tidak. Akhirnya aku bergegas karena melihat suasana luar kosan yang memang telah panas terkena sinar mentari.
Aku berangkat mengayuh sepedaku. Kali ini aku lewat jalan raya biasa, bukan jalan pintas dekat tol karena pasti becek banget dan tidak bisa dilewati. Belum sampai dijalan raya tegal danas hujan kembali turun lumayan deras walaupun langit tidak gelap. Terjadi pertempuran dalam hatiku untuk meneruskan atau balik lagi ke kosan. Aku memlilih meneruskan dan mencari tempat berteduh.
Sampai di jalan raya kutengok ada penjual ketoprak yang tidak asing bagiku. Di sana juga banyak orang yang berteduh karena memang tempat yang lumayan besar dan enak untuk berteduh. Aku langsung saja bergegas menuju ke sana. Seporsi ketoprak kupesan menemaniku menunggu hujan reda. Di tengah menunggu hujan reda aku berpikir perjalan yang lumayan jauh jika lewat jalan raya bisa memakan 20 menit serta kondisi yang hujan, aku akhirnya memutuskan untuk batal menghadiri Masjid Raya Kota Deltamas.
Setelah kulahap sepiring ketoprak yana kupesan, aku tidak berbegas pulang ke kosan. Kusempatkan untuk berbincang-bincang dahulu dengan Mas penjual ketoprak yang sering kutemui di Mushollah. Sambil meracik bumbu dan menguleknya Mas dari tegal ini mengajak aku ngobrol. Biasanya mas ini jualnya di Kodim Pemda namun karena ini hari minggu pemda sepi. Jadi Mas ini jual di sini, begitu katanya. Lumayan lama juga aku ngobrol-ngobrol, Masnya bercerita dari dia dahulunya ikut kerja bangunan di Deltamas, kuli di Jakarta hingga akhirnya jualan ketoprak yang dia katakan baru 8 bulan ini.
Setelah kurang lebih sejam aku nongkrong disini, kuakhiri obrolan pagi kali ini dengan mas penjual ketoprak dari Tegal ini, kalo nggak salah gerobaknya tertulis “Ketoprak Mas Wandi”. Satu Hal yang cukup menarik, saat aku selesai makan dan membayar seporsi ketoprak +segelas air minum kemasan. Kuberikan uang 10 ribu namun aku dikasih kembalian 5 ribu. Hal yang cukup aneh karena harga ketoprak biasaya 6-7 ribu. Saat aku duduk di situ dan memperhatikan orang-orang yang membayar harganya juga 6 ribu. Kucoba untuk menanyakan kok aku diberi kembalian 5 ribu, tidak begitu jelas kudengar apa yang katakan oleh Mas dari Tegal itu dan keburu ada orang lagi yang memesan ketoprak. Aku yakin bukan karena tidak ada kembalian, karena banyak juga orang yang bayar dengan uang pas dan ada uang pecahan ribuan.
Dalam hati aku hanya memuji Mas ini, ternyata baik juga karena sudah merasa kenal dengan aku sehingga aku diberi diskon khusus. Makasih yo Mas.

“Dalam hidup ini ada orang baik dan jahat. salah satu tempat orang baik adalah Masjid. Orang baik kelihatan dari kebiasaannya menjalankan sholat wajib di Masjid”

“Membangun jaringan sangat penting dalam kehidupan ini. Manusai tetap makluk sosial yang butuh orang lain, apalagi di daerah rantau. Perasaan kekeluargaan dari orang yang merasa berasal dari daerah yang sama (baca jawa)akan lebih terasa dekat”Ketoprak Wonk Tegal
Minggu, 23 Februari 2014

Pagi hari tempatku domisili telah diguyur hujan yang cukup lebat. Beberapa hari ini hujan kembali mewarnai pagiku dan matahari tidak kelihatan sinarnya. Tak pelak keadaan ini menimbulkan duka kembali bagi masyarakat ibukota dengan kedatangan banjir. Mungkin juga berimbas terhadap masyarakat lain.
Hari ini minggu pertama yang kutemui di Cikarang setelah merasakan suasana kampung halaman. Aku teringat akan kebiasaan dulu yang hadir di Masjid At-Tauhid atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Kota Deltamas. Dulu saat aku masih ngontrak di Catalonia B10, tiap minggu pagi hampir tidak pernah absen untuk hadir mendengarkan pengajian bertema keluarga. Setelah pindah kontrakan kebiasaan tersebut menjadi tidak istiqomah lagi.
Pernah sekali waktu aku datang ke pengajian ahad pagi tersebut. Sudah banyak hal berbeda. Salah satunya adalah waktu dimulainya pengajian yang semakin siang. Jika dahulu pukul 07.00 WIB sudah dimulai dan selesai pukul 08.00 WIB namun saat ini baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Dan semakin hari ternyata jamaah yang hadir tidak semakin bertambah.
Hari ini keinginanku untuk hadir kembali di majlis tersebut kembali menggebu. Namun sayangnya hujan telah menyapa pagiku hingga aku tak kuasa basah kuyup dengan sepeda untuk pergi ke Deltamas. Suasana dingin pagi ini membuatku tertidur kembali. Aku terbangun saat hujan mulai reda. Kulihat ada cahaya matahari yang menyinari. Aku bimbang antara ingin pergi dan tidak. Akhirnya aku bergegas karena melihat suasana luar kosan yang memang telah panas terkena sinar mentari.
Aku berangkat mengayuh sepedaku. Kali ini aku lewat jalan raya biasa, bukan jalan pintas dekat tol karena pasti becek banget dan tidak bisa dilewati. Belum sampai dijalan raya tegal danas hujan kembali turun lumayan deras walaupun langit tidak gelap. Terjadi pertempuran dalam hatiku untuk meneruskan atau balik lagi ke kosan. Aku memlilih meneruskan dan mencari tempat berteduh.
Sampai di jalan raya kutengok ada penjual ketoprak yang tidak asing bagiku. Di sana juga banyak orang yang berteduh karena memang tempat yang lumayan besar dan enak untuk berteduh. Aku langsung saja bergegas menuju ke sana. Seporsi ketoprak kupesan menemaniku menunggu hujan reda. Di tengah menunggu hujan reda aku berpikir perjalan yang lumayan jauh jika lewat jalan raya bisa memakan 20 menit serta kondisi yang hujan, aku akhirnya memutuskan untuk batal menghadiri Masjid Raya Kota Deltamas.
Setelah kulahap sepiring ketoprak yana kupesan, aku tidak berbegas pulang ke kosan. Kusempatkan untuk berbincang-bincang dahulu dengan Mas penjual ketoprak yang sering kutemui di Mushollah. Sambil meracik bumbu dan menguleknya Mas dari tegal ini mengajak aku ngobrol. Biasanya mas ini jualnya di Kodim Pemda namun karena ini hari minggu pemda sepi. Jadi Mas ini jual di sini, begitu katanya. Lumayan lama juga aku ngobrol-ngobrol, Masnya bercerita dari dia dahulunya ikut kerja bangunan di Deltamas, kuli di Jakarta hingga akhirnya jualan ketoprak yang dia katakan baru 8 bulan ini.
Setelah kurang lebih sejam aku nongkrong disini, kuakhiri obrolan pagi kali ini dengan mas penjual ketoprak dari Tegal ini, kalo nggak salah gerobaknya tertulis “Ketoprak Mas Wandi”. Satu Hal yang cukup menarik, saat aku selesai makan dan membayar seporsi ketoprak +segelas air minum kemasan. Kuberikan uang 10 ribu namun aku dikasih kembalian 5 ribu. Hal yang cukup aneh karena harga ketoprak biasaya 6-7 ribu. Saat aku duduk di situ dan memperhatikan orang-orang yang membayar harganya juga 6 ribu. Kucoba untuk menanyakan kok aku diberi kembalian 5 ribu, tidak begitu jelas kudengar apa yang katakan oleh Mas dari Tegal itu dan keburu ada orang lagi yang memesan ketoprak. Aku yakin bukan karena tidak ada kembalian, karena banyak juga orang yang bayar dengan uang pas dan ada uang pecahan ribuan.
Dalam hati aku hanya memuji Mas ini, ternyata baik juga karena sudah merasa kenal dengan aku sehingga aku diberi diskon khusus. Makasih yo Mas.

“Dalam hidup ini ada orang baik dan jahat. salah satu tempat orang baik adalah Masjid. Orang baik kelihatan dari kebiasaannya menjalankan sholat wajib di Masjid”
“Membangun jaringan sangat penting dalam kehidupan ini. Manusia tetap makhluk sosial yang butuh orang lain, apalagi di daerah rantau. Perasaan kekeluargaan dari orang yang merasa berasal dari daerah yang sama (baca jawa)akan lebih terasa dekat”