Ads 468x60px

Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Monday, September 8, 2014

Kereta Bangun Karta


Senen, 01 September 2014

Hampir tiga tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman -Bangil- dan melanjutkan studi di Kota Deltamas-Bekasi- Jabar. Jarak yang membentang dari Timur ke Barat dan terpisah provinsi membuat jarak tempuh memerlukan waktu yang cukup lama dengan kendaraan darat. Transportasi darat favoritku adalah kereta api karena nyaman dan relatif lebih cepat dibanding dengan bus, selain itu harganya juga murah.

Interior Bangun Karta
Aku merasakan pelayanan kereta api yang meningkat drastis dalam 3 tahun tersebut. Mulai dari tiket kereta yang dibeli pas hari H hingga kini yang harus dipesan jauh hari (hingga -90hari) dan  kini kereta ber-AC semua. Walaupun aku jarang ada liburan panjang seperti mahasiswa pada umumnya karena sudah terikat, namun selalu kusempatkan untuk menengok kampung halamanku jika ada kesempatan. Selama kuliah dan bolak-balik Jakarta-Bangil terhitung hanya 2 kali aku merasakan kereta kelas eksekutif selebihnya kereta ekonomi dan bisnis. Kereta kelas eksekutif kali pertama kunaiki adalah kereta Gumarang saat berangkat menuju kampus ITSB –Deltamas dan Kereta Bangun Karta untuk kali kedua pada hari ini.

Aku naik kereta Bangun Karta dari Stasiun Surabaya Gubeng berangkat pukul 14.15 WIB. Oia Aku pulang kampung kali ini karena ada acara pernikahan Kakak. Aku tidak bisa berlama-lama di rumah dan harus segera kembali untuk melaksanakan Sidang TA tugas akhir. Sehari setelah acara aku diantar Kakak  (Mas Lun) ke Stasiun Gubeng. Aku masuk ke tempat pemeriksaan karcis dan ternyata pemberangkatan kereta ini dari jalur 5 yaitu dari Stasiun Gubeng Baru. Aku disuruh menunggu oleh petugas pemeriksa karcis lalu aku diantar oleh security dan ditunjukkan arah ke stasiun Gubeng Baru.
Tepat pukul 14.15 kereta berangkat namun kulihat sepi tidak seperti naik kereta ekonomi. Terhitung di gerbong yang aku tumpangi hanya ada sekitar 8 penumpang. Memang perbedaan fasilitas kelas ekonomi dan eksekutif cukup mencolok karena harganya pun juga sangat jauh bisa 8-10x lipat. Tak lama kemudian kereta telah sampai di stasun Mojokerto dan berhenti, sepertinya ada juga penumpang yang naik dari stasiun ini. Kereta berjalan kembali dan hampir setiap stasiun besar juga berhenti. Dalam hati pun aku mulai bergumam, ternyata gumamanku dalam hati saam dengan lontaran ucapan penumpang di site belakangku yang mengatakan kalau kereta banyak berhenti kalah dengan kereta ekonomi GBM (Gaya Baru Malam).



Perkiraanku salah ternyata kereta ini tidak lewat Jogja melainkan lewat Semarang (di sini gerbong mulai penuh). Seringnya kereta berhenti menurutku membuat kurang nyaman dengan status kereta eksekutif yang tersemat padanya. Memang sih, jika cari kenyamanan dan tidak terganggu dengan riuh penumpang lain enak Eksekutif. Namun aku pribadi saat ini masih lebih suka naik kereta ekonomi bisa banyak kenal dengan orang baru dan bisa lebih akrab dalam perjalanan saling mengobrol satu sama lain (selain faktor harga). Yang membedakan dengan kereta ekonomi hanya fasilitas di dalamnya seperti tempat duduk, Layar monitor, Selimut, Petugas Restorasi yang seperti Pramugari. Untuk waktu tempuh tidak jauh berbeda dengan kereta ekonomi. Dan ternyata saat kutumpangi kereta ini juga Telat dari jadwal tiba yang tertera di karcis saat tiba di Jakarta. 

Saturday, September 6, 2014

Teruntuk Penerang Kalbu
Oleh: Inueds Al Faqih
Rasa itu ...
Mengusik sukma menusuk raga
Mencuat liar tanpa kendali
Berontak ‘tuk bertemu sang pujaan hati

Lentera penerang kesuraman kalbu
Membuka jalan menuju nirwana
Tak sabar hasrat ingin jumpa
Menuangkan segala gejolak rasa

Sadarku akan keadaan hina ini
Membuatmu enggan bertemu
Bahkan menoleh pun tak mau

Pantang bagiku berpasrah papa
Dengan cinta yang kupunya
Padamu makhluk sempurna
‘Kan kukorbankan semua

Meski bukan keadaan terjaga
Sosokmu tetap kunanti
Menjelma masuk dalam mimpi
Yang tak satu setan pun dapat menyamai


Deltamas, 22 Februari 2014
Biodata Penulis
Inueds Al Faqih nama pena dari Achmad Burhanuddin. Bisa dijumpai di dunia maya lewat akun Fb Achmad Burhanuddin Faqih atau twitter @inueds. Dapat dihubungi di No 085730008550.


Hari Bahagia untuk Kakak


Minggu, 31 Agustus 2014



Tahun ini menjadi tahun yang bersejarah bagi keluargaku, khususnya bagi kakakku. Hari bertambahnya keluarga baru di keluarga besarku. Namanya Mbak Lintang Putri, Istri dari Kakakku yang pertama (Mas Lun). Akad nikah telah dilaksanakan di Masjid kawasan Putri Duyung Resort dengan hikmat pada tanggal 17 Agustus 2014. Aku yang juga hadir saat itu merasa gemetar ntah kenapa mungkin karena sangat senang, haru, gembira hingga tak kuasa air mataku juga deras mengalir saat akad. Ditambah lagi mahar yang dipersembahkan adalah hizdhil suraturrahman. Sungguh mengharukan, mahar yang tidak biasa kutemui saat hadir dalam acara walimatul urusy selama ini.

Foto Ayah, Ibu, Mempelai berdua, Ibu Mertua Kakak, Adik Mbak Lintang (dari kanan ke kiri)

Keluarga besarku berangkat rombongan dari Bangil ke Jakarta dengan mengunakan Elf Long. Kebetulan aku yang berada di Deltamas-Bekasi dijemput di pintu tol Jakarta – Cikampek Km 37. Rombongan berangkat Jumat pagi dan sampai di lokasiku hari sabtu pukul 02.00 dini hari. Setelah menjemputku, perjalanan lanjut menuju rumah Neng Khus (Keponakan Ayah) yang berada di Pasar Minggu. Siang hari perjalanan berlanjut ke Ancol tepatnya menuju Cakalang Cottage. Terhitung 3 hari kuhabiskan waktu bersama keluarga besar di Ancol dari hari Sabtu, 16 Agustus 2014 – Senin, 18 Agustus 2014 mengikuti serangkaian acara yang digelar oleh keluarga besar Mbak Lintang. Kami rombongan cek out dari Ancol hari Senen siang dan mampir dulu ke rumah yang nantinya akan ditempati Mas Lun, mampir ke Istiqlal dan ke Monas setelah itu aku diantar kembali ke kosanku di Deltamas dan rombongan kembali ke Bangil.

Foto Rombongan saat di rumah Neng Khus

***
Melek.an Sabtu Malam 
Selang dua minggu sejak acara akad nikah di Ancol, hari ini (Minggu 31 Agustus 2014) keluargaku mempunyai gawe katanya orang- orang sih Ngunduh Mantu.  Rencana yang telah dipersiapkan dengan matang agar tidak berbenturan dengan jadwal kampus ternyata sedikit bleset. Jadwal Ngundu Mantu hampir berbenturan dengan Sidang TA, Namun Alhamdulillah aku masih bisa hadir dalam acara tersebut walaupun harus balik cepat ke Jakarta untuk melaksanakan sidang TA di hari Selasa, Tanggal 2 September 2014.

Aku bertolak dari jakarta dengan menggunakan kereta ekonomi Kertajaya dengan relasi Jakarta Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi PP. Berangkat dari Pasar Senen hari kamis pukul 14.10 dan sampai di rumah jumat pukul 04.30. Balik ke Jakarta lagi dengan kereta Eksekutif Bangun Karta pada hari Senen pukul 14.15.

Kejadian ini mengingatkanku pada kejadian 2 tahun silam saat pernikahan kakakku yang satunya (Mas Is), Saat itu jadwal juga berberturan dengan jadwal ujian di kampus. Dan kejadian itu terulang kembali di pernikahan Mas Lun. Namun Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga di Bangil. J



Tuesday, March 11, 2014

Kucing ndas ireng


Minggu, 09 Februari 2014


Sore hari sepulang dari Masjid untuk menjalankan sholat Asar, aku melewati jalan raya Tegal Danas-Deltamas. Sabana yang terdapat di pinggir jalan menggoda selera makanku. Pasalnya siang harinya aku hanya makan nasi yang hanya ditemani lauk krupuk. Untuk makan malam aku berniat balas dendam dengan membeli sepotong Fried Chicken.
Dalam perjalanan pulang menuju kos, sesekali kumakan sedikit untuk menawar rasa penasaran lidah. Namun tetap tujuanku membeli Sabana untuk bekal lauk makan malam. Sampai di kosan aku teringat bahwa air minum sudah hampir habis. Aku pergi ke warung untuk membeli air isi ulang satu galon. Di sana aku bertemu dengan Mas Rapik yang mengajak untuk main voli.
Akhirnya aku bilang ke teman-teman di kosan dan mereka setuju untuk main voli. Aku pergi ke SD Hegar Mukti. Semua teman ikut ke sana. Oia sebelumnya di kosan sempat ada Mbak Ugi. Mbak tetangga sebelah dulu saat di Greanleaf Terrace. Mbak yang baik hati dan sangat dekat dengan teman-teman. Teringat saat dulu masi tidak ada kendaraan maka motor Mbak Ugi yang selalu jadi pinjaman.
Kembali ke topik main voli sekitar pukul 04.00 sore Mbak Ugi pamit meninggalkan kosan dan lanjut mau ke tempat temannya juga yang ada di Jababeka. Semua teman berkumpul di kamar Kimi termasuk Imam beda kosan juga datang.
Awalnya untuk acara main voli sore ini ditiadakan namun saat teman-teman asli sekitar kosan ngajak main (Mas Rapik), kita ya ayok aja. Teman-teman yang tadi sudah berkumpul berbondong-bondong berangkat menuju lapangan voli. Dan seperti biasa Imam tidak ikut main volli.
Main voli lumayan seru juga, padahal jujur dari dulu aku kurang suka main olahraga yang ber-team. Ntah mungkin aku bakalan dibilang individualis atau gimana ya terserah. Awalnya dulu saat kecil, biasa kehidupan desa asih sering main bola rame-rame. Dan ntah kenapa juga jika saat main dan melakukan kesalahan aku merasa nggak enak aja apalagi jika melihat kekecewaan teman-teman se-team karena kesalahanku. Hingga akhirnya aku mulai menghindari olahraga yang berbau team dan lebih suka ke olahraga individu ex. tenis meja dan badminton. Namun seiring berjalannya waktu aku sekarang mulai bisa menikmati olahraga-olahraga yang rame-rame.
Setelah lumayan puas main voli, aku kembali ke kosan karena waktu yang mengharuskan permainan tersebut usai. Sampai di kosan aku mandi dan menghangatkan nasi yang ada di magic com. Setelah mandi kok ada yang janggal ya, aku mencari sabana yang tadinya sebelum voli kuletakkan di samping magic com. Nah loh, Hilang. Kucoba mencari di seluruh ruang, mungkin aku lupa naruhnya. Namun hasilnya Nihil. Aku masih belum puas dan agak dongkol juga. Sudah niat mau aku makan eh ternyata saat akan di makan eh malah nggak ada.

Aku berpikir keras, ke mana kiranya hilangnya sepotong Fried Chicken tersebut. Kalau ada kucing yang masuk rumah pasti ada bekasnya, paling tidakk sisa bungkusnya. Tapi ini bersih. Akhirnya ya udah biarlah mungkin emang rejekinya kucing kalo emang dimakan kucing. Tapi, masak nggak ada bekasnya. Hingga muncullah dalam benakku yang memakannya adalah kucing ndas ireng.

Monday, March 10, 2014

Pom Bensin Self Service


Jumat, 7 Februari 2014
            Hari ini kembali lagi kuinjakkan kaki di Ibukota Negara Indonesia tercinta. Aku bersama salah satu teman sekelas di ITSB yang juga menjadi ketua kelas mengunjungi Plaza BII lantai 11. Sekarang namanya bukan lagi Plaza BII melainkan Plaza Sinarmas Land. Di sana merupakan kantor pusat PT. Smart.Tbk perusahaan pemberi beasiswa ikatan dinas yang kuterima.
            Pagi hari sekitar pukul 08.00 aku berangkat menyusuri Kali Malang dengan Beat. Jalanan cukup padat. Sekitar 2 jam lebih akhirnya aku sampai juga di lokasi. Tujuanku kali ini adalah menemani ketua kelas yang disuruh oleh pihak perusahaan (Pak Erwin) untuk datang ke sana karena beliau seminggu kedepan tidak bisa datang ke kampus karena ada tugas luar kota.
            Sebelum nyampek di lokasi kami sempat kesulitan untuk menjangkaunya. Kronologinya saat sampai di Bundaran HI, kami yang dari arah Kuninagan karena kepadatan lalu lintas tidak bisa langsung putar arah. Hingga akhirnya kami harus mencari arah putar balik yang sangat jauh hingga melewati Senayan.
            Sampai di Sinarmas Land tower 2 kami langsung naik ke lantai 11 dan bertemu dengan Pak Erwin. Kami dijelaskan panjang lebar mengenai teknis pemberangkatan Magang. Setelah semua di jelaskan dan aku kebagian lokasi magang di Bangka tepatnya di Bukit Perak Mill. Teman-teman lainnya ada yang kebagian di Lampung, Jambi, Riau dan Kalteng.
Setelah semua telah selesai, kami membawa tiket pesawat dan informasi yang nantinya akan kami lanjutkan ke teman-teman di Deltamas. Setelah semua beres Pak Erwin menanyakan kami akan sholat jumat di mana. Mengingat waktu telah beranjak siang dan mendekati waktu sholat Dhuhur kami mengiyakan ajakan beliau untuk sholat di gedung sebelah.
            Setelah sholat jumat selesai kami pamit dan bertolak langsung ke Deltamas. Dalam perjalanan Beat sudah mulai berontak meminta segera diisi amunisi. Kami mampir di Pom Bensin yang berlokasi di sekitaran daerah Kuningan- Jakarta Pusat. Saat mendekati tempat pengisian Premium terlihat spanduk Self Servise. Pemandangan yang baru kulihat di Pom bensin yang mengadakan jasa pegisian bensin sendiri oleh konsumen.
            Di depan sebelum menuju stasiun pengisian terdapat dua petugas pom pensin berbaju merah. Mereka bertugas melayani konsumen mengenai jumlah berapa bensin yang akan dibeli dan melayani pembayaran. Jadi bayarnya di muka. Setelah melakukan pembayaran dan jumlah bensin yang kita beli, petugas tersebut memberikan kwitansi pembayaran dan menunjukkan stasiun pengisian no berapa yang harus kita tuju. Ada 3 deret stasiun pengisian dan masing-masing ada nomornya.
            Setelah melakukan pengisian sendiri temanku berkomentar ternyata sulit juga, jadi hikmahnya kita nggak boleh marah- marah jika mungkin saat pengisian BBM ada yang tumpah. Setelah selesai pengisian kami lanjut perjalanan, namun supaya adil setelah Beat kami isi amunisi kini giliran kami yang memasukkan amunisi agar cacing dalam perut tidak ikut berontak. Dua porsi soto ayam kami pesan dengan harga @10 ribu. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke Deltamas.

“Mungkin kita bisa dengan seenaknya mencela suatu kerjaan orang lain yang mungkin kita anggap sepele. Padahal kita belum pernah melakukannya. Tapi, saat kita melakukan belum tentu hal itu semudah apa yang kita bayangkan. Alangkah lebih bijak jika kita tidak serta-merta menyalahkan orang lain ketika hal itu merupakan ketidaksengajaan. Dan mereka telah berusaha sebaik-baiknya”

Wednesday, February 26, 2014

Satu Lagi, Semoga Sukses Kawan


Rabu, 27 Februari 2014



Kebersamaan berjuang kuliah di Prodi Teknologi Pengolahan kelapa sawit banyak mengalami suka dan duka. Jaminan kerja yag dijanjikan di depan mata setelah lulus kuliah mampu menjadi pelecut semangat untuk kuliah lebih giat. Dengan persyaratan yang cukup ketat dalam hal nilai yang harus dipertahanan. Ya, begitulah kehidupan mahasiswa kedinasan yang tak lepas dari bayang- bayang DO jika tidak memenuhi nilai minimal yang disyaratkan.
Perjalanan di tahun awal sudah diawali 2 orang memutuskan untuk berhenti kuliah. Walaupun ada bayang-bayang denda yang harus di bayar jika harus mengundurkan diri dan tidak melanjutkan kuliah. Denda memang dibuat sebagai bentuk komitmen keseriusan mahasiswa yang memperoleh beasiswa ikatan dinas. Memang jika kita liat dalam dunia kuliahan banyak terjadi seleksi alam tidak semua mahasiswa bisa lanjut kuliah dan menyelsaiakn perkulaiahan hingga lulus. Ternyata hal tersebut juga ada dalam prodiku yang notabene adalah beasiswa dan ikatan dinas. Banyak faktor penyebab kuliah tersebut berhenti di tengah jalan.
Kebersamaan yang hampir mencapai 3 tahun ini kembali terpisahkan oleh satu orang kawan yang harus memilih berhenti kuliah. entah apa alasan pastinya, hanya dia yang tahu dan telah dipertimbangkan dengan matang segala konsekwensinya. Aku sebagai kkawan hanya bisa mendorong dan mendoaakan semoga pilihannya adalah terbaik. Aku tidak bisa menahannya, sempat  kucoba berbicara padanya namun ini sudah jalan hidupnya. Memang sukses bukanlah hanya di sini saja. Banyak jalan menuju kesuksesan lain dan dengan cara lain.
Sore itu kawanku itu berpamit untuk meninggalkan Kota Deltamas dan kembali ke kampung halamannya. Dengan menggunakan motor yang ada di kosan kuantarkan dia sampai di tegal gede. Lalu ia lanjutkan perjalananya menuju ke Teminal dan ke Kampug halamannya.
Selamat jalan kawand semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. Banyak hal yang bisa kudapat darimu, dari semangtmu yang menggebu hingga kata bijak darimu yang sangat aku suka dan kujadikan sebagai pegangan hidup.
 “Jalani, Syukuri”
Hanya dua kata namun menyiratkan makna yang sanagt dalam. Bagiku itulah intii dari kehidupan yang ada di dunia ini. Jika bisa kutambahi maka selanjutnya adalah kata “Ikhlas”. Kata-kata yang mudah di ucapakan namun sulit dilakukan, Kata yang menunjukakn kerelaan seorang hamba pada Rab nya.
“Banyak jalan menuju kesuksesan tidak hanya di sini saja. Aku yakin dngan semangtmu yag membara kelak kau akan menjadi orang yang suskes. sampai bertemu lagi.”
Hiduppp Mahasiswa ...!!!
Jalani, Ikhlas, Syukuri,,,,!!!!
(^_^)


Ketoprak Wonk Tegal


Minggu, 23 Februari 2014

Pagi hari tempatku domisili telah diguyur hujan yang cukup lebat. Beberapa hari ini hujan kembali mewarnai pagiku dan matahari tidak kelihatan sinarnya. Tak pelak keadaan ini menimbulkan duka kembali bagi masyarakat ibukota dengan kedatangan banjir. Mungkin juga berimbas terhadap masyarakat lain.
Hari ini minggu pertama yang kutemui di Cikarang setelah merasakan suasana kampung halaman. Aku teringat akan kebiasaan dulu yang hadir di Masjid At-Tauhid atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Kota Deltamas. Dulu saat aku masih ngontrak di Catalonia B10, tiap minggu pagi hampir tidak pernah absen untuk hadir mendengarkan pengajian bertema keluarga. Setelah pindah kontrakan kebiasaan tersebut menjadi tidak istiqomah lagi.
Pernah sekali waktu aku datang ke pengajian ahad pagi tersebut. Sudah banyak hal berbeda. Salah satunya adalah waktu dimulainya pengajian yang semakin siang. Jika dahulu pukul 07.00 WIB sudah dimulai dan selesai pukul 08.00 WIB namun saat ini baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Dan semakin hari ternyata jamaah yang hadir tidak semakin bertambah.
Hari ini keinginanku untuk hadir kembali di majlis tersebut kembali menggebu. Namun sayangnya hujan telah menyapa pagiku hingga aku tak kuasa basah kuyup dengan sepeda untuk pergi ke Deltamas. Suasana dingin pagi ini membuatku tertidur kembali. Aku terbangun saat hujan mulai reda. Kulihat ada cahaya matahari yang menyinari. Aku bimbang antara ingin pergi dan tidak. Akhirnya aku bergegas karena melihat suasana luar kosan yang memang telah panas terkena sinar mentari.
Aku berangkat mengayuh sepedaku. Kali ini aku lewat jalan raya biasa, bukan jalan pintas dekat tol karena pasti becek banget dan tidak bisa dilewati. Belum sampai dijalan raya tegal danas hujan kembali turun lumayan deras walaupun langit tidak gelap. Terjadi pertempuran dalam hatiku untuk meneruskan atau balik lagi ke kosan. Aku memlilih meneruskan dan mencari tempat berteduh.
Sampai di jalan raya kutengok ada penjual ketoprak yang tidak asing bagiku. Di sana juga banyak orang yang berteduh karena memang tempat yang lumayan besar dan enak untuk berteduh. Aku langsung saja bergegas menuju ke sana. Seporsi ketoprak kupesan menemaniku menunggu hujan reda. Di tengah menunggu hujan reda aku berpikir perjalan yang lumayan jauh jika lewat jalan raya bisa memakan 20 menit serta kondisi yang hujan, aku akhirnya memutuskan untuk batal menghadiri Masjid Raya Kota Deltamas.
Setelah kulahap sepiring ketoprak yana kupesan, aku tidak berbegas pulang ke kosan. Kusempatkan untuk berbincang-bincang dahulu dengan Mas penjual ketoprak yang sering kutemui di Mushollah. Sambil meracik bumbu dan menguleknya Mas dari tegal ini mengajak aku ngobrol. Biasanya mas ini jualnya di Kodim Pemda namun karena ini hari minggu pemda sepi. Jadi Mas ini jual di sini, begitu katanya. Lumayan lama juga aku ngobrol-ngobrol, Masnya bercerita dari dia dahulunya ikut kerja bangunan di Deltamas, kuli di Jakarta hingga akhirnya jualan ketoprak yang dia katakan baru 8 bulan ini.
Setelah kurang lebih sejam aku nongkrong disini, kuakhiri obrolan pagi kali ini dengan mas penjual ketoprak dari Tegal ini, kalo nggak salah gerobaknya tertulis “Ketoprak Mas Wandi”. Satu Hal yang cukup menarik, saat aku selesai makan dan membayar seporsi ketoprak +segelas air minum kemasan. Kuberikan uang 10 ribu namun aku dikasih kembalian 5 ribu. Hal yang cukup aneh karena harga ketoprak biasaya 6-7 ribu. Saat aku duduk di situ dan memperhatikan orang-orang yang membayar harganya juga 6 ribu. Kucoba untuk menanyakan kok aku diberi kembalian 5 ribu, tidak begitu jelas kudengar apa yang katakan oleh Mas dari Tegal itu dan keburu ada orang lagi yang memesan ketoprak. Aku yakin bukan karena tidak ada kembalian, karena banyak juga orang yang bayar dengan uang pas dan ada uang pecahan ribuan.
Dalam hati aku hanya memuji Mas ini, ternyata baik juga karena sudah merasa kenal dengan aku sehingga aku diberi diskon khusus. Makasih yo Mas.

“Dalam hidup ini ada orang baik dan jahat. salah satu tempat orang baik adalah Masjid. Orang baik kelihatan dari kebiasaannya menjalankan sholat wajib di Masjid”

“Membangun jaringan sangat penting dalam kehidupan ini. Manusai tetap makluk sosial yang butuh orang lain, apalagi di daerah rantau. Perasaan kekeluargaan dari orang yang merasa berasal dari daerah yang sama (baca jawa)akan lebih terasa dekat”Ketoprak Wonk Tegal
Minggu, 23 Februari 2014

Pagi hari tempatku domisili telah diguyur hujan yang cukup lebat. Beberapa hari ini hujan kembali mewarnai pagiku dan matahari tidak kelihatan sinarnya. Tak pelak keadaan ini menimbulkan duka kembali bagi masyarakat ibukota dengan kedatangan banjir. Mungkin juga berimbas terhadap masyarakat lain.
Hari ini minggu pertama yang kutemui di Cikarang setelah merasakan suasana kampung halaman. Aku teringat akan kebiasaan dulu yang hadir di Masjid At-Tauhid atau lebih dikenal dengan Masjid Raya Kota Deltamas. Dulu saat aku masih ngontrak di Catalonia B10, tiap minggu pagi hampir tidak pernah absen untuk hadir mendengarkan pengajian bertema keluarga. Setelah pindah kontrakan kebiasaan tersebut menjadi tidak istiqomah lagi.
Pernah sekali waktu aku datang ke pengajian ahad pagi tersebut. Sudah banyak hal berbeda. Salah satunya adalah waktu dimulainya pengajian yang semakin siang. Jika dahulu pukul 07.00 WIB sudah dimulai dan selesai pukul 08.00 WIB namun saat ini baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Dan semakin hari ternyata jamaah yang hadir tidak semakin bertambah.
Hari ini keinginanku untuk hadir kembali di majlis tersebut kembali menggebu. Namun sayangnya hujan telah menyapa pagiku hingga aku tak kuasa basah kuyup dengan sepeda untuk pergi ke Deltamas. Suasana dingin pagi ini membuatku tertidur kembali. Aku terbangun saat hujan mulai reda. Kulihat ada cahaya matahari yang menyinari. Aku bimbang antara ingin pergi dan tidak. Akhirnya aku bergegas karena melihat suasana luar kosan yang memang telah panas terkena sinar mentari.
Aku berangkat mengayuh sepedaku. Kali ini aku lewat jalan raya biasa, bukan jalan pintas dekat tol karena pasti becek banget dan tidak bisa dilewati. Belum sampai dijalan raya tegal danas hujan kembali turun lumayan deras walaupun langit tidak gelap. Terjadi pertempuran dalam hatiku untuk meneruskan atau balik lagi ke kosan. Aku memlilih meneruskan dan mencari tempat berteduh.
Sampai di jalan raya kutengok ada penjual ketoprak yang tidak asing bagiku. Di sana juga banyak orang yang berteduh karena memang tempat yang lumayan besar dan enak untuk berteduh. Aku langsung saja bergegas menuju ke sana. Seporsi ketoprak kupesan menemaniku menunggu hujan reda. Di tengah menunggu hujan reda aku berpikir perjalan yang lumayan jauh jika lewat jalan raya bisa memakan 20 menit serta kondisi yang hujan, aku akhirnya memutuskan untuk batal menghadiri Masjid Raya Kota Deltamas.
Setelah kulahap sepiring ketoprak yana kupesan, aku tidak berbegas pulang ke kosan. Kusempatkan untuk berbincang-bincang dahulu dengan Mas penjual ketoprak yang sering kutemui di Mushollah. Sambil meracik bumbu dan menguleknya Mas dari tegal ini mengajak aku ngobrol. Biasanya mas ini jualnya di Kodim Pemda namun karena ini hari minggu pemda sepi. Jadi Mas ini jual di sini, begitu katanya. Lumayan lama juga aku ngobrol-ngobrol, Masnya bercerita dari dia dahulunya ikut kerja bangunan di Deltamas, kuli di Jakarta hingga akhirnya jualan ketoprak yang dia katakan baru 8 bulan ini.
Setelah kurang lebih sejam aku nongkrong disini, kuakhiri obrolan pagi kali ini dengan mas penjual ketoprak dari Tegal ini, kalo nggak salah gerobaknya tertulis “Ketoprak Mas Wandi”. Satu Hal yang cukup menarik, saat aku selesai makan dan membayar seporsi ketoprak +segelas air minum kemasan. Kuberikan uang 10 ribu namun aku dikasih kembalian 5 ribu. Hal yang cukup aneh karena harga ketoprak biasaya 6-7 ribu. Saat aku duduk di situ dan memperhatikan orang-orang yang membayar harganya juga 6 ribu. Kucoba untuk menanyakan kok aku diberi kembalian 5 ribu, tidak begitu jelas kudengar apa yang katakan oleh Mas dari Tegal itu dan keburu ada orang lagi yang memesan ketoprak. Aku yakin bukan karena tidak ada kembalian, karena banyak juga orang yang bayar dengan uang pas dan ada uang pecahan ribuan.
Dalam hati aku hanya memuji Mas ini, ternyata baik juga karena sudah merasa kenal dengan aku sehingga aku diberi diskon khusus. Makasih yo Mas.

“Dalam hidup ini ada orang baik dan jahat. salah satu tempat orang baik adalah Masjid. Orang baik kelihatan dari kebiasaannya menjalankan sholat wajib di Masjid”
“Membangun jaringan sangat penting dalam kehidupan ini. Manusia tetap makhluk sosial yang butuh orang lain, apalagi di daerah rantau. Perasaan kekeluargaan dari orang yang merasa berasal dari daerah yang sama (baca jawa)akan lebih terasa dekat”

Sunday, February 23, 2014

Kuliah Umum CSV (Created shared Value) vs CSR (Corperate Social Responsibility)


Rabu, 19 Februari 2014

Bertempat di ITSB Hall, telah dilakukan Kuliah Umum oleh pemateri tunggal Bapak Dhony Rahajoe selaku President Office dari pihak Sinarmas. Kuliah Umum berlangsung selama 2 jam. Dimulai pukul 10.00 WIB dan diakhiri pukul 12.00 WIB. Peserta yang hadir dalam kuliah umum ini adalah mahasiswa ITSB yang tidak ada jam kuliah beserta segenap dosen.

Dalam kuliah umum ini beliau (Bapak Dhony) memaparkan sejarah singkat berdirinya Sinarmas. Beliau juga mengklarifikasi bahwa Sinarmas sekarang ini bukanlah suatu Perusahaan namun hanya sebuah “Brand”. Menanggapi media yang baru-baru ini memberitakan pendiri Sinarmas yaitu Bapak Eka Tjipta Widjaya menjadi orang terkaya di Indonesia adalah salah besar. Enam pilar sinarmas yang ada di Indonesia sekarang ini sudah independent dengan manajemen tersendiri tidak di bawah Sinarmas.

Masing-masing pilar Sinarmas itu kini sudah di pegang oleh generasi ketiga Pak Eka. Untuk menghormati Pak Eka sebagai pendiri maka masing-masing pilar membentuk jaringan yang tidak melepas Brand Sinarmas. Pilar tersebut yaitu:
Pulp and Paper Product
Agribusiness and Food
Developer and Real Estate
Finance Service
Energy and Infrastructure
Telecommunication
Other (Pendidikan;ITSB dll)
Untuk mempererat hubungan antar pilar dibentuklah Sinarmas Office.

Dalam Strategy management ada yang dikenal dengan Created Share Value (CSV), secara singkatnya merupakan strategy yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk memberi manfaat kepada masyarakat luas namun juga memberi timbal balik kepada perusahaan agar terkesan baik untuk kemajuan citra perusahaan.
Hal ini sedikit berbeda dengan Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan kewajiban perusahaan untuk berbuat baik kepada masyarakat akibat beroperasinya perusahaan dan lebih bersifat tuntutan tanggung jawab sosial.
Dalam Kuliah Umum ini, banyak juga dipaparkan bagaimana kondisi persaingan global. Bapak Dhony Rahajoe banyak menjelaskan mengenai pilar Pulp and Paper, karena selama ini banyak mendapat serangan pihak luar yang dianggap merusak alam. Padahal menurut beliau semua itu tidak benar. Sama seperti gencarnya serangan terhadap minyak sawit yang syarat akan unsur politis persaingan global.
Lanjut beliau lagi sawit adalah “jempol” dengan berbagai keunggulan yang dimiliki. Negara Barat takut kalah saing karena di sana tidak bisa tumbuh sawit. Maka jalan satu-satunya adalah mematikan usaha tersebut dengan menyerang melalui media bahwa baik sawit atau pun kertas merusak lingkungan. Banyak masyarakat umum yang menelan dengan mentah informasi yang banyak beredar di media.

Indonesia merupakan paru-paru dunia di samping India dan Cina. Maka industri Sawit dan Kertas adalah dua diantara bisnis yang masih bisa berkembang dan bisa merajai dunia. Hal itulah yang bangsa- bangsa lain takutkan. 

Kampung Halaman [Again]


Rabu, 29 Januari 2014

Setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester Ganjil di tahun ke-3 kini waktunya kembali merasakan suasana kampung halaman. Awalnya aku tidak berniat untuk pulang. Namun setelah melihat jadwal akademik, dan kupikir dengan seksama masih banyak waktu senggang tidak seperti semester-semester yang telah terlewati. Akhirnya kuputuskan untuk pulang menyusul teman-teman yang telah terlebih dahulu pulang setelah UAS berakhir. Aku sengaja tidak pulang dulu untuk sekalian melaksanakan perwalian dan Konsultasi Proposal TA pada tanggal 29 Januari 2014. Ternyata saat hari H dosen tidak bisa datang. 

Tiket kereta (Struk tiket Online), Alhamdulillah sudah berada di tangan. Kali ini aku hanya kebagian Tiket Matarmaja. Sebenarnya bukan kereta favoritku karena waktu tempuh yang sangat lama. Namun apa mau dikata melihat uang yang hanya cukup untuk membeli tiket kelas ekonomi dan yang ada hanyalah Matarmaja, jadi aku ambil saja.

Aku berangkat ke Jakarta (Stasiun Senen) dengan Kholis teman dari Kediri yang juga pulang di Hari yang sama denganku namun beda kereta. Kami berencana naik kereta lokal dengan jadwal keberangkatan dari stasiun Lemah Abang, Stasiun terdekat dari tempat tinggalku pukul 13.30 WIB. Bulan Januari JABODETABEK sedang dilanda hujan lebat yang menyebabkan banjir walhasil kereta lokal terganggu dan menurut info yang kudapat baru akan datang pukul 03.00 WIB. Sedangkan kereta yang ditumpangi Kholis berangkat pukul 16.00 WIB. Akhirnya kami mencari alternatif lain untuk menuju Senen.

Kami menunggu bus lewat di depan stasiun Lemah Abang. Kami berniat ke Terminal Cikarang lalu oper Elf untuk menuju Stasiun Bekasi, dari sana bisa menggunakan KRL untuk menuju Stasiun Senen. Tak berapa lama kemudian ada bus mini lewat dan terpampang di depan jurusan Bogor dan lewat Bekasi. Aku langsung saja naik bus ini walaupun belum pernah naik sekalipun. Bus melaju dengan perlahan karena macet akibat genangan air yang memenuhi jalan raya. 

Bus terus melaju hingga sampai di pertigaan Cibitung, bus ternyata berbelok. Aku mulai bingung, yang awalnya kukira akan masuk terminal namun ternyata tidak. Segera kutanyakan pada kenek bus. Pak kenek mengatakan bahwa bus memang tidak masuk ke terminal Bekasi, namun lewat depan Unisma. Kholis yang tadinya tertidur, bangun. Kukatakan padanya bahwa bus tidak lewat terminal namun lewat Unisma. Kholis bilang bahwa tidak apa-apa karena dari Unisma menuju Stasiun Bekasi tidak begitu jauh.

Sampai di Unisma kembali aku ganti transportasi. Sekarang aku naik angkot yang akan membawaku ke Stasiun Bekasi. Ternyata memang sangat dekat. Aku sangat bersyukur tadi naik bus mini jurusan Bogor. Karena menurut pengamen yang tadi sempat naik di Bus, mengatakan bahwa jalan Cibitung - Bekasi (jalan yang di lewati Elf) macet parah. Dengan naik bus mini yang lewat tol Bekasi Timur ini sejenak kemacetan bisa terhindari. 

Akhirnya aku sampai di Stasiun Senen pukul 03.00 WIB segera kami menukar struk pembelian tiket online dengan tiket. Pemandangan sehari-hari Stasiun Senen yang tak pernah sepi dengan para pelancong yang akan bepergian sudah biasa bagiku. Antrian sangat panjang. Alhamdulillah setelah mengantri cukup lama sekitar 30 menit, akhirnya tiket sudah kami dapatkan. Aku berpisah dengan Kholis yang langsung masuk ke Peron stasiun sedangkan aku masih belum bisa masuk peron karena jadwal kebarangkatan kereta pukul 17.15 WIB. Pintu masuk peron baru di buka satu jam sebelum keberangkatan. Aku memilih keluar stasiun dan menuju masjid yang berada di depan Stasiun Senen.

"Sungguh banyak keajaiban-keajaian yang berlaku di dunia ini jika kita bisa mengambil hikmah dari suatu kejadian yang telah terjadi. Allah pasti tahu yang terbaik bagi Hamba-Nya. Maka Nikmat Allah manakah yang pantas tidak kita Syukuri."

Monday, January 20, 2014

Terulang Kembali

Jumat, 17 Januari 2014

                Hujan yang berlangsung bulan Januari ini tidak tanggung-tanggung, hampir tiap hari tetesan rintik air tak pernah berhenti jatuh ke bumi. Kejadian ini mengingatkanku persis seperti tahun lalu, hujan yang berlansung tanpa henti dari malam hingga pagi dan bertemu malam kembali. Namun sepertinya hujan di tahun 2014 ini lebih besar dengan intensitas hujan yang sangat tinggi dan bisa terjadi seharian. Rasanya hujan seperti ini baru kurasakan, hujan yang berlangsung hingga berhari-hari tak kunjung reda.
                Sama seperti tahun kemarin, bulan januari adalah bulan berakhirnya masa kuliah semester ganjil di kampusku dengan ditandai adanya UAS.  Tak terasa aku sudah memasuki tahun ketiga merasakan kuliah di ITSB. Semoga kuliah yang tinggal satu semester lagi di depan bisa lancar dan aku bisa lulus dengan tepat waktu serta di waktu yang tepat.
                Pelaksanaan Uas hari-hari pertama masih lancar. Memasuki hari ketiga yang bertepatan dengan hari Jumat ini mulai terasa guncangan. Hujan tak kunjung berhenti dari hari kamis hingga Jumat pagi ini. Kebetulan hari ini aku ada jadwal UAS pukul 10.00 WIB dengan mata kuliah Teknik Perawatan.  Pagi hari biasanya matahari sudah gagah dengan sinarnya namun hari ini malah hujan turun semakin lebat. Aku dan teman-kontrakan dari pagi sudah semangat belajar dan mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan Pas saat pelaksanaan Uas.
                Sekitar pukul 09.40 WIB hujan mulai reda. Wawan dan Purwo berangkat terlebih dahulu. Selang 10 menit kemudian Dwi dan Danang juga berangkat. Sedangkan aku dan 3 orang temanku masih di kontrakan karena masih belum selesai menyalin tugas di kertas A4. Setelah semua selesai dan Aku akan bersiap meninggalkan kontrakan Dwi dan Danang kembali dia mengatakan bahwa jalan raya depan banjir, mereka balik karena takut motornya mogok.
                Saat kami telah siap akan berangkat tiba-tiba gemuruh hujan kembali terdengar dan hujan mulai lebat kembali. Kami saling panik dan mencoba menghubungi teman ketua kelas berniat agar minta dispensasi jika telat dan jika bisa ujian dilaksanakan sehabis sholat jumat saja. Namun tiba- tiba hujan mulai mereda kembali dan kamipun memutuskan untuk berangkat saja. Tak lama setelah meninggalkan kosan hujan kembali turun dengan lumayan deras. Karena sudah terlanjur mengayuh sepeda dan baju sudah mulai basah, akhirnya kulanjutkan perjalanan menerjang guyuran hujan di sepanjang kota Deltamas.
                Sampai di Kampus celana basah kuyup. Aku mengenakan jaket dan baju dalam lumayan kering. Langsung saja aku naik menuju ke ruang tempat UAS yang berada di lantai 3 karena kupikir aku sudah telat. Namun ternyata setelah sampai di kelas dosen baru saja masuk. Memang Saat berangkat dan melawati pinggiran tol terlihat antrian panjang kendaraan yang akan masuk ke gerbang tol Deltamas.
                Pergi ke Kampus untuk ujian saat hujan seperti ini mengingatkanku saat Uas semester 4 dengan mata kuliah Mekanika Fluida. Kejadian yang sama persis terjadi di Bulan Januari. Hujan yang bagi sebagian orang menjadi momok karena katanya sebagai penyebab banjir dan ada juga yang menjadikannya sebagai keuntungan.
                Mungkin jika hujan ini diibaratkan sebagai penghalang dalam mencari ilmu maka itu bukanlah suatu penghalang yang besar jika kita memang telah memiiki niat yang benar. Jika kita memahami dalam setiap jalan kehidupan yang kita tempuh akan muncul banyak rintangan. Namun bagaimana sekiranya menyikapi rintangan tersebut agar tidak membuat kita patah semangat dan terus melangkah mencapai cita-cita.
“Dalam perjalanan hidup ini, setiap manusia akan mempunyai masalah, namun yang terperting adalah bagaimana sikap kita mengahadapi masalah tersebut agar terasa ringan dan layaknya bukan suatu masalah. Jangan pernah menganggap bahwa kita tengah menghadapi masalah yang sangat besar dan orang lain tidak punya masalah, Bisa jadi masalah meraka lebih besar namun mereka menyikapinya dengan tepat sehingga tetap enjoy menjalani hari-harinya.”

Monday, January 13, 2014

Cilacap Kota Sejuta Pantai


Selasa, 24 Desember 2013

                Perjalanan detik yang selalu berputar pada jarum jam, hingga berganti hari dan bulan. Kini aku telah masuk dalam bulan terakhir dalam kalender Masehi.  Senang rasanya dalam hati setelah lama meninggalkan rumah. Moment akhir tahun yang selalu menyisahkan liburan panjang tidak pernah absen kulakukan untuk pulang ke kampung halaman.
                Pulang kampung akhir tahun ini beda dari biasanya. Aku mampir dulu ke daerah Jawa Tengah tepatnya ke Cilacap. Disana terdapat 2 orang teman baikku Risyad L.P dan Imam H.H. Alhamdulillah setelah 2 tahun menjadi teman mereka aku berkesempatan mengunjungi kota kelahirannya yang terkenal dengan kota yang memiliki banyak pantai serta dekat dengan sebuah pulau yang selama ini banyak kudengar di TV sebagai Pulaunya Narapidana, Yups.. Pulau Nusakambangan.
                Sore itu aku berangkat bersama Imam selepas kuliah, sedangkan Risyad Berangkat duluan karena dia mampir dulu ke Rumah saudaranya. Aku naik Angkot 61 menuju Pool Bus Sinar Jaya yang akan membawaku melesat ke Cilacap. Susana Pool Bus sudah sangat ramai seperti biasa karena menjelang libur Natal dan Tahun baru. Beruntung ada Mahmud adek tingkat yang berasal dari Cilacap juga. Dia yang mengantrikan untuk mendapatan tiket. Akhirnya setelah antrian yang cukup panjang tiket didapatkan dengan jadwal keberangkatan pertama pukul 18.00. Kami berangkat menuju Cilacap total 4 orang dengan Bus Executif seharga tiket Rp 85.000,00 per orang.
                Jarak dari Cibitung ke Cilacap lumayan jauh, aku sampai di Terminal Cilacap sekitar Pukul 03.30 Wib. Sesampainya disana aku langsung mencari mushollah karena memang belum menjalankan kewajiban. Hujan tengah mengguyur kota ini, kami sholat dan berteduh hingga waktu shubuh tiba dan menjalankan sholat shubuh di Mushollah tersebut. Tak lama setelah sholat shubuh orang tua Risyad menjemput kami. Perjalanan lanjut menuju rumah Risyad.
                Hujan yang turun walaupun tidak begitu lebat namun berlangsung dengan cukup lama hingga siang hari. Di Rumah Risyad aku bemain bersama adeknya yang masih duduk di bangku SD namanya Dani. Karena Hujan yang tak kunjung berhenti hingga aku belum bisa menikmati suasana kota ini. Tak terasa waktu dhuhur telah tiba, aku mengajak Dani pergi ke Masjid. Di sana aku bertemu dengan Imam, yang memang rumah mereka berdekatan. Seusai sholat aku mampir kerumah Imam sebentar lalu kembali ke rumah Risyad beserta Imam.

                Perjalanan yang cukup jauh membuat badan tak bisa menolak kodrat untuk merasakan letih. Siang hari kugunakan waktu untuk beristirahat. Sore hari aku baru berkesempatan jalan–jalan menikmati Kota Cilacap. Perjalanan dimulai dengan mnegujungi pantai yang cukup terkenal disana yaitu Panti Teluk Penyu. Tak jauh dari teluk penyu terdapat Benteng Pendem dan Kawasan pertamina. Kami menghabiskan waktu senja dengan menikmati deburan Ombak  di Panta Teluk Penyu.


               
          Setelah matahari benar-benar tenggelam dan suasana pantai sudah sepi aku melanjutkan perjalanan kali ini ke Alun-alun Kota Cilacap dan sholat Maghrib di Masjid Jami Cilacap yang berada di sekitar alun-alun. Udara dingin yang mulai berhembus membuat cacing dalam perut meminta asupan makanan. Akhirnya kami mencari warung angkringan pinggir jalan untuk membeli beberapa bungkus Nasi Kucing untuk kami nikmati sebagai teman menghabiskan malam Kota Cilacap.
                Puas menikmati Nasi Kucing dengan beberapa tusuk usus dan ati serta wedang susu jahe, kami kembali ke rumah Risyad mengingat keesokan harinya aku harus melanjutkan perjalanan ke kampung halamanku dengan jadwal tiket kereta pukul 06.30 Wib dari Stasiun Kroya. Stasiun yang terdekat yang berada di Kabupaten Cilacap dan dilewati oleh kereta jarak jauh. Stasiun Kroya lumayan jauh sekitar 40 km dari Kota Cilacap.
               Sesampainya di rumah Risyad, ibunya bilang bahwa aku ke stasiunnya diantar saja karena lumayan jauh dan jika naik kendaraan umum tidak berhenti di depan stasiun langsung. Awalnya aku akan di antar oleh Imam. Namun karena Imam juga tidak tahu persis lokasinya sehingga tawaran tersebut kusetujui bersama dengan Imam.
                Seharian aku hanya di rumah Risyad dan belum ke tempat Imam, maka malam harinya aku berniat untuk menginap di rumah Imam. Aku pamit ke Ibu Risyad dan pergi menuju rumah Imam sedangkan barang-barangku masih tetap di rumah Risyad karena besoknya pagi aku akan kesitu lagi dan diantar ke Kroya.
               Aku pergi bersama bersama Imam dan sebelum pulang aku diajak Imam untuk mampir ke SMA 1 Cilacap, SMA tempat 2 temanku itu mengenyam bangku SLTA. Setelah mampir sebentar aku bertolak menuju rumah Imam. Waktu yang menunjukkan telah larut, di rumah Imam sudah sepi dan sudah pada Istirahat.
            Keesokan harinya setelah sholat shubuh, hujan turun dengan cukup lebat menyapa akan kepergianku dari Kota Cilacap ini. Hujan berlangsung tidak begitu lama dan cukup untuk membasahi bumi Cilacap di pagi ini. Setelah sarapan aku menuju rumah Risyad. Setelah semua siap kami berangkat menuju Stasiun Kroya. Perjalanan dengan mobil tidak begitu lama sekiata 40 menit aku sudah sampai. Perjalanan kulanjutkan menuju kota Bangil, kota yang menjadi kota kelahiranku. Aku naik kereta Logawa dengan relasi Purwokerto-Jember. Kereta ini juga melewati Bangil sehingga aku bisa langsung turun di Stasiun Bangil.

Terima kasih Sobatku Risyad dan Imam beserta kelauarga yang sangat baik kepadaku selama seharian penuh. J Kutunggu kalian mampir ke kota kelahiranku Bangil.
  


Monday, December 2, 2013

Tradisi Ngaliwet Masyarakat Sunda


Sabtu, 30 November 2013


Ngaliwet/Ngeliwet/Ngliwet mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat  Indonesia. Ngeliwet sebenarnya adalah suatu nama yang digunakan untuk cara memasak nasi yang paling sederhana dengan cara mencampur air dengan beras yang sudah dicuci, kemudian merebusnya di atas api sedang hingga airnya habis dan nasi masak.


Di berbagai daerah mengkin terdapat perbedaan cara dan nama untuk ngliwet, ada yang memasaknya dengan ditambahi dengan garam, rempah-rempah, serai, santan serta dengan tambahan ikan asin ataupun bahan tambahan lain yang diletakkan diatas nasi saat dimasak sehingga nasi yang dimasak menjadi terasa gurih seperti nasi uduk. Cara memasak seperti ini adalah yang aku temukan di Tanah Sunda. Sedangkan ditanah kelahiranku (Jawa Timur) ngeliwet hanya istilah untuk memasak nasi yang paling simple dengan sekali meletakkan panci diatas api hingga nasi masak dan pada prosesnya tanpa ada tambahan bumbu apa-apa.

Kembali pada pembahasan mengenai Ngaliwet yang ada di Tanah Sunda. Disini Ngaliwet lebih dari sekedar memasak nasi namun sebuah tradisi masyarakat dengan banyak sekali manfaat yang bisa diambil. Ngaliwet merupakan Tradisi Masak dan Makan bersama yang sangat baik utuk membina kebersamaan dan keakraban diantara sesama. Untuk waktu pelaksanaannya fleksibel dan banyak pemuda yang biasanya melaksanakannya diakhir pekan. Juga untuk bahan yang dimasak tergantung selera biasanya ketika akan dilakukan ngaliwet maka para anggota akan saling patungan untuk mendapatkan bahan makanan yang dibutuhkan. Sungguh suatu kebersamaan yang tiada tara.


Aku dan teman – teman hari ini merasakan kebersaman Ngaliwet yang pertama kali ditanah sunda tepat pada hari Sabtu malam diakhir bulan November 2013, suatu penutupan bulan dengan kenangan yang indah. Ibu kosan mengatakan kepada teman-teman bahwa nanti malam akan ada  bakar- bakar.


Tepat setelah Isya acara dimulai dengan acara bakar Ikan Mas dan Nasi Liwet didepan kosan lebih tepatnya didepan rumah ibu yang punya kosan. Suasana yang sangat hangat dimalam ini bisa berkumpul bersama dengan tetangga saling bantu - membantu memasak dengan diiringi canda dan tawa yang menghiasai malam minggu ini. Padahal yang ngeliwet dan menyiapkan semuanya sebenarnya adalah ibu-ibu yang ada disini, aku dan teman- teman hanya menunggu makanan matang, heheheh




Kepulan asap dari kayu bakar dan arang yang digunakan untuk masak mulai berkurang dan menunjukkan bahwa acara masak bersama ini telah hampir selesai dan tinggal menunggu giliran tradisi selanjutnya untuk menikmati hasil masakan tadi dengan bersama-sama. Daun pisang mulai dipasang memanjang diteras rumah ibu kos dan tak lupa nasi mulai disebar beserta ikan bakar dan sambel yang mengiringi.


Setelah semua telah siap dihidangkan mulailah kami makan bersama dengan duduk berjajar dan berhadan menikmati Nasi Liwet yang Gurih dan di hidangkan diatas daun pisang. Suasana kebersamaan yang cukup menambah memori keindahan dalam hidupku. Canda tawa untuk saling mengakrabkan juga tak sepi mewarnai makan bersama ini. Aku jadi teringat akan kebiasaan dulu dengan teman MTNU hampir tiap akhir pekan selalu melaksanakan tradisi seperti ini yang disana disebut dengan “Mayoran”.



Hingga selesai makan suasana keakraban masih saja terpelihara. Petikan gitar dan lagu yang silih berganti menggema di malam ini. Tak terasa waktu telah menunjukkan tengah malam dan hari telah berganti. Akhirnya usai sudah acara malam ini, berharap semoga suasana seperti ini bisa terulang lagi sebelum aku dan teman- teman meninggalkan tanah Sunda ini. Terima kasih Pak dan Ibu kos serta masyarakat sekitar yang telah menerima kami dengan sangat baik dan bisa menjadikan kami sebagai kelurga baru hingga dikenalkan dengan tradisi yang ada disini. 

Sunday, December 1, 2013

Cara memberantas DBD


Sabtu, 30 November 2013

Musim hujan mulai datang di negeri ini, banyak ancaman yang mencekam membayangi benak masyarakat. Seringnya terjadi banjir hingga bahaya akan terserangnya penyakit Demam Berdarah (DBD). Melihat fenomena yang terjadi seperti ini sungguh sangat bisa dikata ‘Miris’. Pasalnya ketika musim kemarau banyak berita di daerah-daerah yang memberitakan mengalami kekeringan hingga tanaman mati dan ladang tidak bisa dipanen. Namun ketika berganti musim masih ada saja permasalahan yang dihadapi yaitu banjir. Kita tidak bisa menyalakan alam dengan  menyebutkan itu adalah suatu bencana alam saja. Bila kita lihat ketidak-seimbangan kondisi lingkungan yang terjadi ini juga karena ulah manusia sendiri yang cukup serakah dalam menjalani kehidupannya.

Fenomena lainnya yang bisa menjadi perhatian ketika memasuki musin hujan adalah meningkatnya korban yang terkena penyakit DBD. Penyakit yang dibawah oleh nyamuk  Aides Agepty ini sangat meresahkan banyak menimbulakan kematian. Perkembangbiakan nyamuk di musim penghujan sangat meningkat drastis karena banyaknya air yang mengenang. Air tersebut menjadi sarang telur nyamuk untuk beranak-pinak.

Pencegahan DBD banyak dilakukan oleh pemerintah untuk daerah-daerah yang memang rawan dengan korban DBD salah satu cara yaitu dengan penyembrotan Fogging. Dengan Fogging lebih cepat membunuh nyamuk besar yang memiki kemampuan terbang dan berpindah dengan cepat. Namun Fogging Bukan satu-satunya cara yang ampuh untuk memberantas DBD. Hal yang terpenting adalah dengan kesadaran masyarakat sendiri untuk memberantas sarang-sarang yang menjadi tempat favorit bagi nyamuk untuk berkembang biak. Progam tersebut adalah sesuai dengan yang kita tahu yaitu dengan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur).

Penjelasan singkat mengenai program 3M adalah :
1)      Menguras tempat penampungan air yang bisa menjadi sarang telur dan juga bisa digunakan bubuk abate yang dimasukkan kedalam air untuk membutuh telur nyamuk tersebut.
2)      Menutup tempat penampungan air untuk mencegah nyamuk bertelur dalam air
3)      Mengubur barang bekas yang ada seperti kaleng bekas, karena jika ada air yang menggenang bisa menjadi sarang nyamuk.

Hari ini sabtu diakhir pengujung bulan November aku mendapat pengalaman mengenai fogging. Di daerah tempat tinggalku dilakukan penyemprotan fogging ntah itu yang mengadakan siapa aku kurang tahu. Menjelang dhuhur ada petugas yang melakukan fogging dan menyuruku menutup pintu karena akan dilakukan fogging disekitar kosan. Akupun menuruti apa yang diperintahkan oleh petugas tersebut. Tak lama berselang pintu kosan di ketuk  dan  kulihat ada petugas tadi yang tengah berdiri. Lalu Bapak itu menyerahkan 4 bungkus abate dan menyuruhku membayar uang 20 ribu. Aku tidak mau memberinya hingga terjadi sedikit debat dengan petugas tersebut. Dalam benakku kenapa harus bayar bukannya itu juga progaram dari pemerintah ya... dulu saat masih di Deltamas juga tidak ditarik iuran seperti ini. Aku masih belum mau memberikan sejumlah uang yang dimintanya. Disamping itu uangku tinggal 50rb yang ada di dompet, dan menurutku 20rb itu terlalu mahal. Hingga akhirnya petugas itu mungkin karena kesal, mengambil lagi abate yang tengah kupegang tadi.

Aku tidak tahu yang kulakukan ini benar atau salah, teman- teman yang kebetulan kamar kos sebelah juga diminta dan mereka memberinya. Setelah petugas itu pergi mereka hanya bisa protes kenapa ditarik uang iuran hingga 20rb hanya untuk 4 bungkus abate. selain itu fogging juga hanya dilakukan diluar. Di pekarangan yang juga lumayan jauh jaraknya dari tempat kos kami. Aku merasa aneh saja karena tidak dikasih informasi oleh pemilik kosan mengenai fogging apalagi itu dikenakan biaya. Biasanya Pemilik Kos pasti memberi informasi apalagi jika itu mengenai iuran yang ada disekitar tempat kos.

Sore hari aku coba browsing mengenai fogging mangenai kebenaran program tersebut. memang ada dalam berita yang kubaca di daerah yang setiap KK iuran untuk mendatangkan fogging dan itupun hanya 7rb dan disebutkan juga yang seperti itu dilakuakan oleh pihak swasta. Dan jika itu dilakukan oleh pemerintah maka gratis. Dalam Headline yang kubaca bahkan ada yang jelas memberitakan jika mengambil pungutan dari fogging maka Kepala Daerah bisa dipenjara. Dan prosedur jika ingin mendapatkan abate hanya mengajukan saja ke Puskesmas tanpa ada biaya yang harus dibebankan.

"Sangat diperlukan untuk mengetahui informasi- informasi yang ada dengan banyak membaca agar tidak mudah ditipu"

Thursday, November 28, 2013

Buku Antologi Pertama


Kamis, 28 November 2013

Kehidupan dengan dunia maya sudah tak bisa lepas dalam keseharianku. Jika dulu saat masih sekolah kehidupanku tak lepas dengan namanya hape tapi sekarang telah bergeser, hari- hariku tak bisa lepas dengan namanya netbook serta jaringan internet. Banyak yang bisa kudapat dari dunia internet selain hiburan banyak informasi yang bisa kuambil.

Malam hari kubuka laptop berniat ingin membuat cerpen yang akan aku ikutkan lomba di leutikaPrio. Ntah kenapa aku masih belum menemukan ide mengenai tema dan cerita yang ingin aku tulis. Kku belum menancapkan modem dan masih belum tehubung dengan internet, aku hanya membaca persyaratan lomba serta cerpen yang aku downlod dikampus dari sebuah grup asuhan Bunda Asma Nadia yaitu Komunitas Bisa menulis. Cerpen yang sangat menarik dan dari banyak komentar yang ada semua mengatakan bagus tidak ada yang memberikan kripik pedas. Aku jika masuk ke Grup memang sangat suka membaca karya yang  banyak komentarnya. Menurutku dari komentar- komentar tersebut aku bisa dapat pelajaran banyak mengenai kupasan anggota grup lain. Cerpen yang aku baca tersebut berjudul “Ustad Ijinkan aku menciummu”.

Cerpen tersebut memang menurutku sangat bagus, bercerita mengenai seorang muallaf yang akhirnya nikah dengan ustad yang biasanya mengajarinya ngaji.  Setelah membaca cerpen ini teringat akan modemku yang sejak pagi tidak bisa connect. aku mencoba menancapkan modem dan Alhamdulillah malam ini bisa connect. Alhamdulillah malam ini modem telah berfungsi dengan normal lagi. Saat kubuka Fb, disana terlihat di beranda PJ event yang aku ikuti ada Foto cover Buku yang akan dicetak. Saat ini sudah bisa dilakukan Pre Order. Aku yang juga termasuk kontributor dalam event tersebut membukanya namun namaku tidak tercantum dalam buku tersebut.

Tak lama berselang, ternyata ada buku kedua dan saat kubuka foto Cover tersebut namaku ada disana. Senang rasanya namaku bisa turut andil dalam buku tersebut walaupun hanya sebagai kontributor. Semoga ini bisa menjadi pelecut semangatku untuk terus menulis hingga akhirnya namaku bisa ada didepan cover dan namaku bisa abadi serta dengan tulisan yang kubuat bisa memberi manfaat bagi yang membacanya.
Segera aku membagikan Foto tersebut didalam berandaku. Senang rasanya bisa mempunyai buku yang sebentar lagi akan terbit. Sebuah Buku antologi yang telah mengabadikan kisahku dengan seorang lelaki yang sangat berarti dalam hidupku yang bernama “AYAH”. Buku antologi pertama yang berhasil terbit. Semoga nanti akan diikuti oleh buku antologi berikutnya dan tidak berhenti sampai disini saja.

AAMiiinn....

Uang Saku Keluar Lagi


Kamis, 28 November 2013


Kuliah semester akhir, hanya tinggal 4 mata kuliah yang kuambil. Bisa dikatakan sangat santai dengan banyak jadwal kosong. Hari ini aku kuliah dengan mata kuliah Teknik Perawatan yang diampu oleh Pak Ari Kurniawan. Tidak ada yang istimewa hari ini hingga mata kuliah selesai. Tiba-tiba Danang mengatakan bahwa Beasiswa keluar. Segera dia turun kebawah untuk mengecek di ATM. Kabar Beasiswa keluar didapatkan dari adek kelas. Aku yang sedari tadi sedang asyik Online selepas mata kuliah ini selesai, segera membuka internet Banking Sinarmas.com. 

Setelah kumasukkan Username dan Pasword segera kubuka menu cek Saldo. Tak Kusangka ternyata Saldoku telah bertambah sebesar 9rts ribu. Biasanya teman-teman hanya bercanda berkaitan dengan beasiswa tapi ternyata hari ini beneran. Padahal katanya untuk bulan ini tidak keluar dan keluarnya bulan depan. Alhamdulillah sesuatu yang tak disangka, ternyata perusahaan tidak melupakan kewajibannya dan tidak mendholimi calon karyawannya. Padahal saat dulu mendengar berita jika bulan ini tidak ada beasiswa aku sangat males dan ingin buat status “Jika berhubungan dengan perusahaan ngga’ mungkin ada yang mau rugi, maunya cari untung mulu”


Hari ini cukup bisa membuatku tersenyum dengan bertambahnya saldo di rekening dan uang saku telah naik menjadi 9rts. Jika dari awal masuk kuliah uang saku hanya 750 padahal harga sewa kos saja sudah 5rts. Gimana mau cukup untuk kehidupan sebulan??? Ntah apa yang menjadi perhitungan perusahaan hingga bertahan 2 tahun tidak naik- naik. Padahal UMR saja naiknya sangat drastis. Bilangnya saja mahasiswa ikatan dinas sudah dianggap karyawan. Jika dibanding prodi lain mereka dapat uang saku perbulan mencapai 1,2 juta. Alhamdulliah untuk sekarang ini uang saku telah naik dan perusahaan telah terbuka dengan kondisi kehidupan yang semakiin berat di tengah ganasnya Kota Deltamas.